Bontang Ahad, 12 April 2013 Saya bersama istri pergi berbelanja keperluan dapur di pasar Rawa Indah. Hari itu langit sedikit mendung dan butiran-butiran air hujan sudah sedikit membasahi kami. Jarak rumah dengan pasar kira-kira ditempuh dalam waktu 5 menit. Kami pun menyamparin beberapa penjual ikan yang berada di sebelah kiri Pasar Rawa Indah yang sementara dalam proses pembangunan.
Di tempat dengan ukuran sekitar 6x8 meter itu kami pun disambut dengan tawaran khas para pedagang ikan. Ada sekitar delapan orang penjual ikan dan sekitar 5 orang penjual sayur-mayur dan sejenisnya. Kami bergegas menghampiri seorang penjual ikan karena saya tertarik dengan sejenis ikan katombong yang masi segar dan juga harganya terjangkau. Kami membeli sekiloan dan berpindah ke bagian sebelahnya yang juga menawarkan ikan tongkol yang juga cukup segar dengan harga Rp 20000/kilo. Setelah dipotong-potong menjadi beberapa penggal kami bergegas menghampiri penjual paling depan dengan ciri khas ikan bawis dengan beberapa varian harga sesuai dengan ukuran ikan tersebut.
Saya dan istri kembali memesan sekilo ikan bawis tersebut. Sambil memilih si penjual mengatakan timbangannya itu tidak direkayasa alias timbangan murni tanpa membohongi konsumen. Ia mengatakan jangan seperti pedagang nakal lainnya yang hanya ingin meraih keuntungan semata tetapi tidak takut dengan dosa. Saya cukup terkesima sambil mengamini apa yang dikatakan penjual ikan dengan kondisi sederhana itu. Dalam hatiku sedikit ragu tapi perlahan tapi pasti sambil menunggu ikan dibersihkan seakan-akan Ia mulai memberi petuah yang tidak kalah dengan pencerama atau mubalig yang rutin memberi pengajian di masjid-masjid. Beliau mengatakan bahwa hidup di zaman ini sangat edan soalnya orang baik tidak didengar sedangkan orang jahat dipuja puji. Koruptor di sanjung-sanjung sedangkan para ustadz dan kiai tidak lagi dihargai. kata beliau jika ada orang berbuat baik selalu dicurigai.
Beberapa menit kemudian di depan jalan raya tiba-tiba seorang Ibu terjatuh dari motornya. Sepertinya ibu itu ingin berbelanja di pasar. Tanpa pikir panjang saya pun segera membantu ibu itu untuk mengangkat motornya yang terbalik dan terlihat kedua spionnya pecah, saya juga segera menyingkirkan kaca-kaca yang pecah tersebut. Setelah itu saya katakan siapa yang tabrak bu, Beliau hanya mengatakan saya mau menghindar tiba-tiba motor saya menyerempet mobil. Alhamdulillah walau sedikit dari raut wajah seperti gemetar dan ketakutan akhirnya ibu itu bergegas menstarter motornya dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Saya kembali ke penjual ikan tersebut. beliau mengatakan banyak penjual atau pedagang melakukan praktek kecurangan demi mendapatkan keuntungan sesaat. Saya sangat kagum dengan penjual ikan tersebut dan Saya yakin pula masih banyak penjual-penjual lainnya yang masih memiliki hati mulia dan nilai-nilai kejujuran yang kebanyakan saat ini terus tergerus oleh zaman karena hanya dunia semata dikejar. Ternyata nilai-nilai ketulusan dan juga kebaikan bukan datang dari para mubalig yang sudah lumrah kita dengar tetapi orang-orang biasa pun terkadang membuat kita tertegun dan dapat belajar dari mereka tersebut.** iman

0 komentar:
Posting Komentar