Rabu, 29 April 2015




Menyambut hari buruh nasional yang lebih akrab di kenal dengan istilah  "May Day" yang akan disemarakkan pada tanggal 1 Mei 2015. Hari buruh merupakan sebuah moment bagi kaum buruh untuk menyuarakan hak-hak kaum buruh yang selama ini dianggap terjadi diskriminasi di tempat dimana mereka bekerja. May Day lebih dikenal di negara-negara Eropa yang mana asal mula tercetusnya ide untuk bersatu kaum buruh demi memperjuangkan hak dan ketidakadilan yang selama ini dialami kaum buruh. Di Indonesia sendiri lebih dikenal dengan istilah hari buruh. Olehnya itu demi kerja keras Serikat Pekerja Buruh Seluruh Indonesia memperjuangkan bulan Mei tepatnya tanggal 1 Mei sebagai hari libur nasional.

Sejarah Lahirnya May Day

May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.


Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi pada tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

Dua orang yang dianggap berjasa  telah menyumbangkan gagasan untuk menghormati para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja dan para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan "pengganggu ketenangan masyarakat".
Tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari "United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America". Ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.

Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.
Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari libur umum. Pada 1894. Presider Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum resmi nasional.

Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872.

Hari buruh di Indonesia

Ibarruri Aidit (putri sulung D.N. Aidit) sewaktu kecil bersama ibunya pernah menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional di Uni Sovyet, setelah dewasa menghadiri pula peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 1970 di Lapangan Tian An Men RRC pada peringatan tersebut menurut dia hadir juga Mao Zedong, Pangeran Sihanouk dengan istrinya Ratu Monique, Perdana Menteri Kamboja Pennut, Lin Biao (orang kedua Partai Komunis Tiongkok) dan pemimpin Partai Komunis Birma Thaksin B Tan Tein. Sejak masa pemerintahan Orde Baru hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia. Ini disebabkan karena gerakan buruh dihubungkan dengan gerakan dan paham komunis yang sejak kejadian G30S pada 1965 ditabukan di Indonesia.

Setelah era Orde Baru berakhir, walaupun bukan hari libur, setiap tanggal 1 Mei kembali marak dirayakan oleh buruh di Indonesia dengan demonstrasi di berbagai kota.
Kekhawatiran bahwa gerakan massa buruh yang dimobilisasi setiap tanggal 1 Mei membuahkan kerusuhan, ternyata tidak pernah terbukti. Pada tahun 2013 muncullah wacana oleh pemerintah yang saat itu di bawah komando pemerintahan SBY. Pemerintah berjanji akan menjadikan Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap 1 Mei sebagai hari libur nasional. Dan pada tahun 2014  setiap tanggal 1 Mei di jadikan hari libur nasional. Untuk itulah asal mula May Day Internasional dan May Day di Indonesia terbentuk.

Hakikat Hardiknas

Sehari setelah May Day, bangsa ini merayakan Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional). Setiap tahun bangsa ini memperingati hari pendidikan nasional tanggal 2 Mei. Namun pernahkah kita telusuri dan kita tau rekam jejak dari peristiwa lahirnya hardikinas tersebut?

Jika kita tanya secara jujur para pejabat, terkhusus di lingkungan kementrian pendidikan nasional tentang sejarah lahirnya hardiknas tentu banyak aparat dan pegawai yang tidak memahami dan  tahu persis kapan pencetusan tanggal 2 Mei sebagai hardiknas. Mungkin pula para guru yang tidak  mengajarkan pelajaran yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan sosial mereka juga tidak  mengerti, belum lagi para siswa yang santer setiap tanggal 2 Mei di wajibkan untuk mengikuti upacara hardiknas, semua itu dilaksanakan karena sudah menjadi agenda tahunan dan kemendiknas selalu memberi  mandat ke setiap jenjang atau satuan pendidikan untuk turut menyelenggarakan upacara hardiknas.

Hakikat memperingati hardiknas bukan semata-mata untuk mengingat dan mencatat besar-besar tanggal 2 Mei yang menjadi agenda tahunan, tetapi lebih dari itu kita tahu sejarah dan memahami hakikat dari pendidikan itu sendiri. Di dalam Undang-Undang Sisdiknas 2003 Bab III pasal 4 menjelaskan pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, kultur, dan kemajemukan bangsa. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

Dengan demikian jika dicari benang merahnya pendidikan dewasa ini, apakah masyarakat pusat sampai ke pelosok sudah mendapatkan pendidikan secara adil? Rasanya hal ini belum terjawab dan terealisasi dengan baik. Antar kota-kota besar dan daerah terpencil terjadi kesenjangan yang mencengangkan. Pasilitas dan sarana yang ditawarkan oleh pemerintah selaku penyelenggara pendidikan ternyata jauh panggang dari api. Banyak sekolah yang saat ini kondisinya memprihatinkan. Banyak anak bangsa yang harus rela berjalan kaki menempuh medan yang begitu mengancam keselamatan. Banyak sekolah yang ketika  pembelajaran siswa-siswa mereka tidak konsentrasi karena kondisi bangunan sekolah yang hampir ambruk. Kondisi ini berbeda yang terjadi di daerah-daerah pusat kota sangat jauh, mereka menikmati pasilitas dan sarana yang lengkap.

Dalam amanat negara yang termaktub dalam UUD 1945 bahwa tujuan dari negara Indonesia ialah "untuk mencerdaskan kehidupan bangsa", lantas negara telah menyiapkan anggaran pendidikan 20 persen dalam penyelenggaraan pendidikan, namun lagi-lagi anggaran sebesar itu hanya di korup oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kualitas pendidikan di negeri ini tidak adanya perubahan. Belum lagi setiap ganti menteri ganti pula kurikulum, selain membingungkan siswa dan guru, orang tua pun ikut bingung. Setiap tahun belum selesai kurikulum yang baru, datang lagi kurikulum yang terbaruakan sehingga upaya-upaya yang dilakukan agar tercapai pendidikan yang diharapkan tidak mencapai target. Banyak siswa yang putus asa dan akhirnya ikut putus sekolah. 

Belum lagi kurikulum yang diberlakukan tidak memihak pada upaya menjadikan murid-murid menjadi insan-insan yang beradab. Setiap saat terjadi diskriminasi dan juga pembegalan antar siswa yang memiliki latar belakang ekonomi yang berbeda. Dewasa ini tidak dapat kita pungkiri dimana-mana terjadi abrasi moral serta karakter anak bangsa. Pendidikan ternyata belum memberi komunikasi, porsi dan solusi yang baik bagi siswa. Tawuran antara pelajar santer terjadi dimana-mana, siswa sudah tidak malu jika ke sekolah sambil menghisap rokok, melakukan free sex, dan nilai-nilai asusila setiap saat menjadi hot issue (berita hangat). Sedangkan sekolah-sekolah tertentu tidak memberi teladan kepada siswanya. Hanya mereka mengejar bagaimana bisa menyelesaikan tugas-tugas mengajar di kelas ketimbang memberi warna dan keteladanan yang baik. Ada istilah yang sering kita dengar, "Kalau guru Kencing berdiri, maka siswa akan kencing berlari," Belum lagi sekolah yang seharusnya menjadi back up terhadap segalah amoral siswa, ternyata lahir dari sekolah dan guru-gurunya sendiri seperti kasus yang menimpah JIS (Jakarta Internasional School) beberapa waktu lalu yang mana guru melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya. Dan masi banyak kasus yang lain.
 
Sudahkah hardiknas mengokomodasi setiap permasalahan yang terjadi pada dunia pendidikan terkhusus di Indonesia? ataukah hardiknas hanya sebuah serimonial yang dimeriakan tanpa hakikat dan makna yang nyata. Sudahkah terjadi keadilan dalam institusi pendidikan? Hanya kitalah yang akan mengembalikan citra pendidikan Indonesia dewasa ini? 

Sejarah Hardiknas 

Tanggal 2 Mei sejatinya adalah hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara , beliaulah yang dianggap sebagai pahlawan yang memajukan pendidikan di Indonesia, berkat jasa beliau Perguruan Taman Siswa berdiri,suatu lembaga pendidikan yang menjadi cikal bakal pendidikan di Indonesia memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Ki Hadjar Dewantara juga suka menulis , banyak tulisannya yang sangat tajam terutama menyindir Belanda, salah satunya kutipan tulisannya adalah Als Ik Eens nederlander Was ( Seandainya Aku Seorang Belanda ) yang salah satu petikannya adalah sebagai:

Sekiranya Aku seorang Belanda, Aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya.
Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! “Kalau aku seorang Belanda” Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun
“.

Karena tulisannya tersebut Ki Hajar Dewantara dibuang ke pulau Bangka namun dipindahkan ke Belanda karena pembelaan Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesumo, sepulangnya ke Indonesia Ki Hadjar Dewantara membangun Nationaal Onderwijs Instituut Taman siswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922 yang menjadi awal dari konsep pendidikan nasional.

Ki Hadjar Dewantoro akhirnya meninggal pada 28 April 1958 dan Pemerintah menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional sejak tahun 1959 sebagai penghargaan atas jasa-jasanya di bidang pendidikan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya

Selamat Hari Buruh (May Day 1 Mei) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas 2 Mei 2015)
Referensi : berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar

Unordered List

Sample Text

Blog Archive

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget