Menyambut hari buruh nasional yang lebih akrab di kenal dengan
istilah "May Day" yang akan disemarakkan pada tanggal 1 Mei
2015. Hari buruh merupakan sebuah moment bagi kaum buruh untuk menyuarakan
hak-hak kaum buruh yang selama ini dianggap terjadi diskriminasi di tempat
dimana mereka bekerja. May Day lebih dikenal di negara-negara Eropa yang mana
asal mula tercetusnya ide untuk bersatu kaum buruh demi memperjuangkan hak dan
ketidakadilan yang selama ini dialami kaum buruh. Di Indonesia sendiri lebih
dikenal dengan istilah hari buruh. Olehnya itu demi kerja keras Serikat Pekerja
Buruh Seluruh Indonesia memperjuangkan bulan Mei tepatnya tanggal 1 Mei sebagai
hari libur nasional.
May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk
meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme
industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama
di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan
disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi
kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.
Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi pada tahun 1806
oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja
pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut
bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk
menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika
Serikat.
Dua orang yang dianggap berjasa telah menyumbangkan gagasan untuk menghormati
para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari
Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan
aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan
dengan berbicara dengan para pekerja dan para pengangguran, melobi pemerintah
kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal
dengan sebutan "pengganggu ketenangan masyarakat".
Tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk
mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang
terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum
dari "United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America". Ide
untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak
ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari
libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari
Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.
Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di
kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam
kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran
penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya,
gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.
Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari
libur umum. Pada 1894. Presider Grover Cleveland menandatangani sebuah
undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum
resmi nasional.
Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di
Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Satu
Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886
oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan
momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas
pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena
pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi
oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872.
Hari buruh di Indonesia
Ibarruri Aidit (putri sulung D.N. Aidit) sewaktu kecil
bersama ibunya pernah menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional di Uni
Sovyet, setelah dewasa menghadiri pula peringatan Hari Buruh Internasional 1
Mei 1970 di Lapangan Tian An Men RRC pada peringatan tersebut menurut dia hadir
juga Mao Zedong, Pangeran Sihanouk dengan istrinya Ratu Monique, Perdana
Menteri Kamboja Pennut, Lin Biao (orang kedua Partai Komunis Tiongkok) dan
pemimpin Partai Komunis Birma Thaksin B Tan Tein. Sejak masa pemerintahan Orde Baru
hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia. Ini disebabkan karena gerakan buruh dihubungkan
dengan gerakan dan paham komunis yang sejak kejadian G30S pada 1965 ditabukan di
Indonesia.
Setelah era
Orde Baru berakhir, walaupun bukan hari libur, setiap tanggal 1 Mei kembali
marak dirayakan oleh buruh di Indonesia dengan demonstrasi di berbagai kota.
Kekhawatiran bahwa gerakan massa buruh yang
dimobilisasi setiap tanggal 1 Mei membuahkan kerusuhan, ternyata tidak pernah
terbukti. Pada tahun 2013 muncullah wacana oleh pemerintah yang saat itu di
bawah komando pemerintahan SBY. Pemerintah berjanji akan menjadikan Hari Buruh
Internasional yang diperingati setiap 1 Mei sebagai hari libur nasional. Dan
pada tahun 2014 setiap tanggal 1 Mei di
jadikan hari libur nasional. Untuk itulah asal mula May Day Internasional dan
May Day di Indonesia terbentuk.
Hakikat Hardiknas
Sehari
setelah May Day, bangsa ini merayakan
Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional). Setiap tahun bangsa ini memperingati hari
pendidikan nasional tanggal 2 Mei. Namun pernahkah kita telusuri dan kita tau
rekam jejak dari peristiwa lahirnya hardikinas tersebut?
Jika
kita tanya secara jujur para pejabat, terkhusus di lingkungan kementrian
pendidikan nasional tentang sejarah lahirnya hardiknas tentu banyak aparat dan pegawai
yang tidak memahami dan tahu persis kapan
pencetusan tanggal 2 Mei sebagai hardiknas. Mungkin pula para guru yang tidak mengajarkan pelajaran yang berkaitan dengan
ilmu pengetahuan sosial mereka juga tidak
mengerti, belum lagi para siswa yang santer setiap tanggal 2 Mei di
wajibkan untuk mengikuti upacara hardiknas, semua itu dilaksanakan karena sudah
menjadi agenda tahunan dan kemendiknas selalu memberi mandat ke setiap jenjang atau satuan
pendidikan untuk turut menyelenggarakan upacara hardiknas.
Hakikat
memperingati hardiknas bukan semata-mata untuk mengingat dan mencatat
besar-besar tanggal 2 Mei yang menjadi agenda tahunan, tetapi lebih dari itu
kita tahu sejarah dan memahami hakikat dari pendidikan itu sendiri. Di dalam
Undang-Undang Sisdiknas 2003 Bab III pasal 4 menjelaskan pendidikan
diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif
dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, kultur, dan kemajemukan bangsa.
Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan
mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
Dengan
demikian jika dicari benang merahnya pendidikan dewasa ini, apakah masyarakat pusat
sampai ke pelosok sudah mendapatkan pendidikan secara adil? Rasanya hal ini
belum terjawab dan terealisasi dengan baik. Antar kota-kota besar dan daerah
terpencil terjadi kesenjangan yang mencengangkan. Pasilitas dan sarana yang
ditawarkan oleh pemerintah selaku penyelenggara pendidikan ternyata jauh
panggang dari api. Banyak sekolah yang saat ini kondisinya memprihatinkan.
Banyak anak bangsa yang harus rela berjalan kaki menempuh medan yang begitu
mengancam keselamatan. Banyak sekolah yang ketika pembelajaran siswa-siswa mereka tidak
konsentrasi karena kondisi bangunan sekolah yang hampir ambruk. Kondisi ini berbeda
yang terjadi di daerah-daerah pusat kota sangat jauh, mereka menikmati
pasilitas dan sarana yang lengkap.
Dalam
amanat negara yang termaktub dalam UUD 1945 bahwa tujuan dari negara Indonesia
ialah "untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa", lantas negara telah menyiapkan anggaran pendidikan 20 persen
dalam penyelenggaraan pendidikan, namun lagi-lagi anggaran sebesar itu hanya di
korup oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kualitas pendidikan di
negeri ini tidak adanya perubahan. Belum lagi setiap ganti menteri ganti pula
kurikulum, selain membingungkan siswa dan guru, orang tua pun ikut bingung.
Setiap tahun belum selesai kurikulum yang baru, datang lagi kurikulum yang
terbaruakan sehingga upaya-upaya yang dilakukan agar tercapai pendidikan yang diharapkan
tidak mencapai target. Banyak siswa yang putus asa dan akhirnya ikut putus
sekolah.
Belum
lagi kurikulum yang diberlakukan tidak memihak pada upaya menjadikan
murid-murid menjadi insan-insan yang beradab. Setiap saat terjadi diskriminasi
dan juga pembegalan antar siswa yang memiliki latar belakang ekonomi yang
berbeda. Dewasa ini tidak dapat kita pungkiri dimana-mana terjadi abrasi moral
serta karakter anak bangsa. Pendidikan ternyata belum memberi komunikasi, porsi
dan solusi yang baik bagi siswa. Tawuran antara pelajar santer terjadi
dimana-mana, siswa sudah tidak malu jika ke sekolah sambil menghisap rokok, melakukan
free sex, dan nilai-nilai asusila setiap saat menjadi hot issue (berita hangat).
Sedangkan sekolah-sekolah tertentu tidak memberi teladan kepada siswanya. Hanya
mereka mengejar bagaimana bisa menyelesaikan tugas-tugas mengajar di kelas
ketimbang memberi warna dan keteladanan yang baik. Ada istilah yang sering kita
dengar, "Kalau guru Kencing berdiri,
maka siswa akan kencing berlari," Belum lagi sekolah yang seharusnya
menjadi back up terhadap segalah amoral siswa, ternyata lahir dari
sekolah dan guru-gurunya sendiri seperti kasus yang menimpah JIS (Jakarta
Internasional School) beberapa waktu lalu yang mana guru melakukan pelecehan
seksual terhadap muridnya. Dan masi banyak kasus yang lain.
Sudahkah
hardiknas mengokomodasi setiap permasalahan yang terjadi pada dunia pendidikan
terkhusus di Indonesia? ataukah hardiknas hanya sebuah serimonial yang dimeriakan
tanpa hakikat dan makna yang nyata. Sudahkah terjadi keadilan dalam institusi
pendidikan? Hanya kitalah yang akan mengembalikan citra pendidikan Indonesia
dewasa ini?
Sejarah Hardiknas
Tanggal 2 Mei sejatinya adalah hari kelahiran Ki
Hadjar Dewantara , beliaulah yang dianggap sebagai pahlawan yang memajukan
pendidikan di Indonesia, berkat jasa beliau Perguruan Taman Siswa berdiri,suatu
lembaga pendidikan yang menjadi cikal bakal pendidikan di Indonesia memberikan
kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan
seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Ki Hadjar Dewantara juga suka menulis , banyak
tulisannya yang sangat tajam terutama menyindir Belanda, salah satunya kutipan
tulisannya adalah Als Ik Eens
nederlander Was ( Seandainya Aku Seorang Belanda ) yang salah satu
petikannya adalah sebagai:
“Sekiranya Aku seorang Belanda, Aku tidak
akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah
merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak
adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan
untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah
menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya.
Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! “Kalau aku seorang Belanda” Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun“.
Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! “Kalau aku seorang Belanda” Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun“.
Karena tulisannya tersebut Ki Hajar Dewantara
dibuang ke pulau Bangka namun dipindahkan ke Belanda karena pembelaan Douwes
Dekker dan Cipto Mangoenkoesumo, sepulangnya ke Indonesia Ki Hadjar Dewantara
membangun Nationaal Onderwijs Instituut
Taman siswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922 yang menjadi awal
dari konsep pendidikan nasional.
Ki Hadjar Dewantoro akhirnya meninggal pada 28
April 1958 dan Pemerintah menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan
Nasional sejak tahun 1959 sebagai penghargaan atas jasa-jasanya di bidang
pendidikan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya
Selamat Hari Buruh
(May Day 1 Mei) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas 2 Mei 2015)
Referensi : berbagai sumber

0 komentar:
Posting Komentar