First slide Next

Senin, 27 April 2015

Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (SMA YPK Bontang) 2015

 
Kunjungan Belajar ke Kemenag Kota Bontang 2015 (Kelas V sedang Santai)

 
Dinas Luar di UPT SKB Kab. Barru Sulsel 2014

 
Pembelajaran KF oleh PKBM melati 2015


 
Pembelajaran KF oleh PKBM melati 2015

Pelatihan Pembuatan Abon Ikan Tongkol di PKBMMelati Bontang 2015




Pembelajaran KF dan Tata Boga di Lengkol (PKBM Melati 2015)



Senin, 13 April 2015

Bontang Ahad, 12 April 2013 Saya bersama istri pergi berbelanja keperluan dapur di pasar Rawa Indah. Hari itu langit sedikit mendung dan butiran-butiran air hujan sudah sedikit membasahi kami. Jarak rumah dengan pasar kira-kira ditempuh dalam waktu 5 menit. Kami pun menyamparin beberapa penjual ikan yang berada di sebelah kiri Pasar Rawa Indah yang sementara dalam proses pembangunan.

Di tempat dengan ukuran sekitar 6x8 meter itu kami pun disambut dengan tawaran khas para pedagang ikan. Ada sekitar delapan orang penjual ikan dan sekitar 5 orang penjual sayur-mayur dan sejenisnya. Kami bergegas menghampiri seorang penjual ikan karena saya tertarik dengan sejenis ikan katombong yang masi segar dan juga harganya terjangkau. Kami membeli sekiloan dan berpindah ke bagian sebelahnya yang juga menawarkan ikan tongkol yang juga cukup segar dengan harga Rp 20000/kilo. Setelah dipotong-potong menjadi beberapa penggal kami bergegas menghampiri penjual paling depan dengan ciri khas ikan bawis dengan beberapa varian harga sesuai dengan ukuran ikan tersebut.

Minggu, 12 April 2015




Oleh
B.P. Sitepu
Pendahuluan
Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 serta diatur lebih lanjut dalam Pasal 31, maka Pemerintah telah melakukan pembangunan di bidang pendidikan baik melalui jalur pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Di samping pembangunan gedung-gedung sekolah, pengadaan guru serta sarana/prasarana pendidikan lainnya, upaya peningkatan mutu bangsa Indonesia dilakukan secara nasional dengan menerapkan Program Wajib Belajar  Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) Enam Tahun mulai tahun 1984 dan ditingkatkan menjadi Wajar Dikdas Sembilan Tahun dalam tahun 1994. Di lain pihak, dilakukan pula gerakan pemberantasan buta huruf terhadap mereka yang berusia 10 tahun ke atas dan yang tidak memperoleh kesempatan belajar di jalur pendidikan formal karena berbagai kendala. Program Pemberantasan Buta Huruf (PBH) ini dilanjutkan pula dengan Program Kejar Paket A dan Keaksaraan Fungsional (KF).
Sampai dengan tahun 2006, upaya Pemerintah bersama-sama masyarakat dalam memberantas buta aksara telah  berhasil menurunkan tingkat buta aksara pada berbagai kelompok umur. Oleh karena besarnya jumlah penduduk Indonesia, gerakan pemberantasan buta aksara akan terus ditingkatkan dari waktu ke waktu.   Berdasarkan data  Education for All Global Monitoring Report tahun 2005, populasi  buta huruf di Indonesia  masih berkisar 18,4 juta orang yang berarti merupakan negara yang ke-8 dengan populasi buta huruf terbesar di dunia. Dengan program dan gerakan yang terencana dan terpadu, Pemerintah bersama semua unsur masyarakat diharapkan dapat bekerja sama melaksanakan gerakan pemberantasan buta aksara sehingga tuntas dalam beberapa tahun yang akan datang.

Jumat, 10 April 2015






Kamis, 09 April 2015

Rabu, 08 April 2015

Nala Edwin - detikNews
Siswa SD di Subang ini Tetap Semangat Meski Belajar Lesehan di Kelas
Jakarta - Kekurangan sarana tak membuat siswa-siswi SDN Mekar Bakti, Desa Cilamaya Girang, Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa Barat, patah semangat. Mereka tetap belajar seperti biasa meski kelasnya tak memiliki meja dan bangku.

"Siswa SD ini belajar di lantai karena tidak ada kursi dan bangku. Sebagian siswa belajar sambli tengkurap untuk belajar menulis," tulis Nandang Kuswara di pasangmata.com, Jumat (20/3/2015).

Unordered List

Sample Text

Blog Archive

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget